Vinsensius Awey : Risma Jangan Sampai Bermain “Victim Playing”

by -90 Views

SURABAYA, Wartagres.Com – Aksi sujud yang dilakukan oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini di hadapan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), kemarin (29/6/2020) di Balai Kota Surabaya, membuat Wakil Ketua DPW Partai NasDem Jatim Bidang Media dan Komunikasi Publik, Vinsensius Awey Heran.

Pria yang akrab disapa Awey tersebut mengatakan, kenapa itu (sujud) dilakukan hanya pada IDI. Padahal, menurutnya, Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo juga pernah menyampaikan hal yang sama dengan IDI terkait kesadaran dan kepatuhan warga kota Surabaya beberapa hari lalu waktu berkunjung ke Surabaya.

“Nah kenapa respon kepada IDI dengan bapak Presiden berbeda. Kenapa tidak bersujud juga dihadapan Bapak Presiden,” ucap Awey.

Mantan anggota DPRD periode 2009 – 2014 itu, sampai heran dengan sikap yang ditunjukan Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Betapa tidak, pasalnya, menurut Awey, Walikota perempuan pertama di Surabaya itu terkadang terlihat mudah marah hingga nangis, bahkan sampai bersujud.

“Pemandangan seperti ini bukanlah hal baru. Bersujud yang tertangkap oleh kamera sudah dua sampai tiga kali sepertinya, yang nangis juga sudah berkali kali, dan apalagi yang marah lebih banyak lagi,” katanya, sambil tersenyum heran.

Drinya menjelaskan, sikap yang ditunjukan oleh Walikota Surabaya itu justru semakin menunjukan kelemahan untuk menertibkan warga Surabaya supaya patuh menjalankan protokol kesehatan agar pasien tidak terus bertambah.

“Atau mau menunjukan kepada publik bahwa seakan akan pengelola RS dr. Soetomo sangat kejam dan bertindak tidak adil terhadap warga kota Surabaya karena berkali kali menolak untuk bertemu dan berkoordinasi dengan risma? Kalau tujuannya adalah yang ke dua, maka ini sangat berbahaya karena dapat menyesatkan pengiringan opini dari hal yang benar bisa menjadi tidak benar dan sebaliknya,” ucapnya.

Ia menjelaskan, wajar ketika RS dr. Soetomo seandainya melayani 79 persen lebih banyak pasien warga non Surabaya. Lantaran, RS tersebut adalah milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

“Rumah sakit kan bukan didirikan hanya untuk warga ber-KTP Surabaya, dan lagi pula pihak kedokteran telah ambil sumpah profesi untuk dapat melayani siapapun tanpa harus terlebih dahulu melihat KTP nya pasien. Itu perlu dipahami semua pihak,” tambahnya.

Dia menambahkan, paling membahayakan adalah kalau sampai “bermain korban” (victim playing). Artinya, seolah-olah memposisikan diri sebagai seorang korban untuk berbagai alasan dan ujung ujungnya mengalir simpati kepada korban.

“Saya harap Risma jangan sampai bermain victim playing. Kalau memang sampai pasien Covid terus bertambah di kota Surabaya. Kenapa Risma harus merasa bersalah dan bersujud? kalaupun merasa bersalah, maka mari dengan seluruh jajaran ASN yang ada dibawah satu komando Walikota untuk memiliki “sense of crisis” bukannya meledak ledak, menangis dan bersujud,” pungkasnya. (Tur)

No More Posts Available.

No more pages to load.