Special Screening Beautiful Pain di Surabaya, Kisah Ibu Tunggal Melawan Trauma dan Stigma Sosial

by -55 Views
Keseruan nobar di royal plaza Surabaya.

SURABAYA, WARTAGRES.Com — Perjuangan perempuan keluar dari hubungan rumah tangga yang tidak sehat tak selalu berakhir ketika perpisahan terjadi. Justru, bagi sebagian penyintas, keputusan untuk pergi menjadi awal perjuangan baru menghadapi tekanan ekonomi, stigma sosial, hingga trauma psikologis.

Potret getir tersebut diangkat dalam film drama keluarga Beautiful Pain yang menggelar special screening di XXI Royal Plaza Surabaya, Sabtu (10/10/2026). Penayangan terbatas garapan rumah produksi Dapur Film itu dihadiri sutradara Dmaz Brodjonegoro serta dua pemeran utamanya, Baim Wong dan Dimas Aditya.

Dalam sesi diskusi setelah pemutaran film, ketiganya membahas pesan cerita, pendalaman karakter, serta perjuangan seorang ibu tunggal untuk bangkit, memulihkan diri, dan merebut kembali martabatnya.

Niken, Perempuan yang Berjuang Bangkit dari Luka

Film Beautiful Pain menghadirkan karakter Niken yang diperankan Raihaanun. Ia digambarkan sebagai perempuan yang memilih keluar dari rumah tangga manipulatif bersama suaminya, Dirga, yang diperankan Baim Wong.

Keputusan tersebut bukan akhir dari persoalan. Kehilangan kemapanan ekonomi membuat Niken harus kembali tinggal bersama ibunya dan membangun kehidupan dari awal.

Sebagai ibu tunggal, Niken juga harus membesarkan kedua anaknya di tengah keterbatasan finansial. Di saat berusaha menata kembali karier, ia menghadapi penghakiman sosial, cibiran orang-orang terdekat, serta konflik berupa pelecehan dan fitnah yang digambarkan dalam cerita.

Situasi itu menempatkan Niken pada pilihan sulit: bertahan dalam tekanan atau terus memperjuangkan hak, masa depan anak-anak, dan harga dirinya.

Melalui karakter tersebut, film ini mengangkat persoalan victim blaming, yakni kecenderungan menyalahkan korban atas kekerasan atau penderitaan yang dialaminya. Cerita Niken juga menyoroti pentingnya keberanian penyintas untuk bersuara dan memperoleh ruang untuk memulihkan diri.

Dmaz Brodjonegoro: Luka Batin Tidak Boleh Mematikan Langkah

Sutradara Dmaz Brodjonegoro menegaskan, Beautiful Pain tidak dibuat semata-mata untuk mengeksploitasi kesedihan. Film ini ingin memperlihatkan proses seorang penyintas trauma dalam menghadapi ketidakadilan dan membangun kembali kehidupannya.

“Realitanya kita ingin memperlihatkan perjuangan seorang perempuan, terutama ibu tunggal. Banyak ketidakadilan yang dialami perempuan di masyarakat kita, mereka disakiti, tapi justru mereka yang paling sulit untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan karena takut dihakimi,” ungkap Dmaz dalam sesi bincang media di XXI Royal Plaza Surabaya.

Menurut dia, karakter Niken menjadi gambaran bahwa rasa sakit yang dialami perempuan perlu diakui, bukan justru menjadi alasan untuk membungkam mereka.

“Karakter Niken hadir untuk memperlihatkan bahwa rasa sakit itu nyata, tapi luka batin tidak boleh mematikan langkah kita. Kami ingin perempuan yang sedang berada di situasi sulit merasa dilihat dan dikuatkan,” lanjutnya.

Pesan tersebut menjadi bagian penting dari film yang mengajak penonton memahami bahwa proses bangkit dari hubungan tidak sehat membutuhkan keberanian, dukungan, dan kesempatan untuk memulai kembali.

Baim Wong Dalami Karakter Dirga

Baim Wong mengungkapkan, memerankan Dirga menjadi tantangan tersendiri. Ia dituntut membangun karakter suami yang memicu keretakan rumah tangga Niken secara natural dan tidak sekadar menghadirkan sosok antagonis satu dimensi.

“Tantangannya adalah bagaimana menghidupkan karakter Dirga senatural mungkin. Walaupun perbuatannya menyakitkan bagi Niken, harus ada sebab-akibat yang jelas, manusiawi, dan bisa dirasakan oleh penonton,” kata Baim.

Ia juga mengapresiasi arahan Dmaz yang dinilainya terperinci sejak tahap awal produksi. Arahan tersebut membantu para pemain membangun dinamika hubungan antarkarakter agar terasa intens dan meyakinkan di layar.

Sementara itu, Dimas Aditya menilai Dmaz memiliki visi penyutradaraan yang matang, meskipun Beautiful Pain menjadi bagian dari perjalanan karier penyutradaraannya.

“Dari tahap workshop awal, saya tidak pernah melihat Dmaz sebagai sutradara baru karena dia punya visi yang sangat matang. Dia tahu persis apa yang ingin dicapai, pesan apa yang mau disampaikan, dan bagaimana mengeksekusinya,” ujar Dimas.

Menurut dia, proses workshop turut membantu para pemain memahami arah cerita sehingga konsep yang disiapkan dapat diterapkan dengan baik selama proses syuting.

Dibintangi Lintas Generasi, Mengusung Pesan Fight the Trauma

Beautiful Pain diproduseri bersama oleh Hanung Bramantyo dan menandai debut Nikita Mirzani sebagai executive producer.

Film ini diperkuat jajaran pemain lintas generasi, di antaranya Raihaanun, Baim Wong, Jajang C. Noer, Tarra Budiman, Nikita Mirzani, Dimas Aditya, Siti Fauziah, Sha Ine Febriyanti, Anantya Kirana, dan Evano Zyan.

Mengusung pesan “Fight the Trauma”, film ini tidak hanya menyajikan drama keluarga, tetapi juga mengangkat percakapan mengenai trauma, stigma terhadap perempuan, dan perjuangan membangun kembali kehidupan setelah hubungan yang menyakitkan.

Setelah menggelar special screening di Surabaya, Beautiful Pain dijadwalkan tayang di jaringan bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026.

Informasi terbaru mengenai film tersebut dapat diikuti melalui akun media sosial @filmbeautifulpain dan @dapurfilm.

No More Posts Available.

No more pages to load.