Gelar Diskusi, Disbudpar Jatim Hadirkan Tiga Narusumber Kompeten Soal Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif

by -800 Views
Gelar diskusi soal pengembangan ekonomi kreatif.

SURABAYA, Wartagres.Com – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (disbudpar) Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar Saresehan Kota Kreatif Tahun 2022 dengan tema “Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif” yang dilakukan di gedung Graha Wisata Pemprov Jatim, Rabu (21/12/2022).

Acara tersebut menghadirkan tiga narasumber yang kompeten yakni, perwakilan dari Bappeda Jatim, Nurareni Widi Astuti, Pelaku seni tradisi Jatim, Drs. Arif Rofiq, dan Dosen Universitas Ciputra Surabaya, Suryadi Kusniawan.

Sub Koor Pariwisata dan UMKM Bappeda Jatim, Nurareni Widi mengatakan, lajur pertumbuhan ekonomi setiap daerah mengalami penurunan sejak adanya pandemi covid-19 dan hal itu membuat angka kemiskinan di Provinsi Jatim melonjak drastis.

“Memang waktu pandemi ekonomi kita melemah, tapi Jawa Timur dapat bangkit lebih awal daripada daerah lainnya,” ujar, Nurareni.

Dia mengatakan, meskipun angka kemiskinan saat pandemi covid-19 terbilang cukup tinggi. Namun, Jatim mampu mengatasi hal tersebut. Terbukti, Jatim tercatat paling banyak menurunkan angka kemiskinan.

“Selama pandemi covid-19, Jawa Timur mampu menurunkan angka kemiskinan paling banyak, capaian-capain itu yang perlu kita pertahankan,” ungkapnya.

Nurareni menambahkan, untuk membangkitkan perekonomian agar lebih cepat khususnya di Jawa Timur perlu adanya inovasi atau terobosan baru yang harus dilakukan misalnya, mengembangkan UMKM dan Kuliner.

“Saat ini kita (pemprov Jatim) tidak hanya mengandalkan sumber daya alam, karena semakin lama semakin berkurang. Kedepan Jatim harus mengembangkan ekonomi kreatif seperti produk-produk UMKM dan kuliner,” tambahnya.

Sementara itu, Akademisi Universitas Ciputra Surabaya, Suryadi Kusniawan mengungkapkan, pelaku ekonomi kreatif di Jawa Timur kota Surabaya menempati posisi tertinggi dengan 21,29 persen.

“Sedangkan pada urutan ke dua disusul kota Malang dengan presentase 13,62 persen, dan untuk yang ketiga yakni, kabupaten Sidoarjo dengan presentase 7,37 persen,” ungkapnya.

Dia menambahkan, mengembangan ekosistem ekonomi kreatif muncul dengan adanya gagasan yang didasari pengetahuan serta keterampilan.

“Ada kecanggungan terkait dengan ekraf (ekonomi kreatif) dari beberapa kota/kabupaten di Jawa Timur. Ekraf sendiri adalah perwujudan nilai tambah dari suatu ide kekayaannya intelektual manusia yang berbasis pengetahuan dan teknologi,” jelasnya.

Selain itu, kata dia, ekonomi kreatif harus memiliki konteks kebudayaan agar mempunyai ciri khas dan keunikan.

“Sehingga, bisa bersaing dengan lokalitas daerahnya yang mempunyai nilai atau suatu makna yang melekat,” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.