Empat Korban Tewas saat Padamkan Karhutla Bromo, Dini Rahmania Desak Evaluasi Total Keselamatan Petugas

by -60 Views
Anggota Komisi VIII DPR RI Dini Rahmania dari fraksi Nasdem.

SURABAYA, WARTAGRES.Com — Tragedi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang menewaskan empat orang mendapat perhatian serius Anggota DPR RI, Dini Rahmania. Ia mendesak pemerintah dan instansi terkait melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem komando, kesiapan peralatan, serta prosedur keselamatan petugas dan relawan di lapangan.

Anggota Komisi VIII DPR RI yang akrab disapa Ning Dini tersebut menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya tiga petugas dan seorang relawan dalam upaya pemadaman kebakaran di kawasan Bromo.

Menurut Dini, peristiwa tersebut bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi peringatan penting mengenai perlindungan terhadap personel yang bertugas dalam penanganan bencana.

“Empat nyawa yang hilang tidak boleh dianggap sebagai risiko dalam penanganan bencana. Harus ada evaluasi menyeluruh terhadap sistem komando, kesiapan peralatan, serta prosedur keselamatan petugas dan relawan di lapangan,” tegas Ning Dini, Jumat (16/10/2026).

Ia menilai, keselamatan personel harus menjadi bagian utama dalam setiap operasi penanganan bencana. Keberanian petugas dan relawan dalam menjalankan tugas kemanusiaan, menurutnya, harus diimbangi dengan kesiapan sarana, pemetaan risiko, serta mekanisme penyelamatan darurat yang memadai.

Minta Sistem Komando dan Prosedur Keselamatan Dievaluasi

Sebagai anggota Komisi VIII DPR RI, Dini mendesak instansi terkait memperkuat koordinasi dan memastikan penanganan bencana dilakukan secara cepat, terukur, serta terorganisasi.

Ia mengingatkan agar keterbatasan sarana, lemahnya antisipasi, maupun keterlambatan penanganan tidak kembali menempatkan petugas dan relawan dalam situasi yang membahayakan keselamatan jiwa.

“Saya juga meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem komando, pemetaan risiko, dan mekanisme penyelamatan darurat. Jika ditemukan kelalaian dalam penerapan standar keselamatan, harus ada pertanggungjawaban yang jelas,” ujarnya.

Dini menegaskan, evaluasi tidak cukup hanya dilakukan setelah terjadi insiden. Hasil evaluasi harus menjadi dasar perbaikan prosedur operasional, peningkatan kesiapan peralatan, serta penguatan perlindungan bagi seluruh personel yang terlibat dalam penanganan bencana di Indonesia.

Menurutnya, setiap operasi pemadaman karhutla harus memperhitungkan tingkat bahaya di lapangan, termasuk kondisi medan dan potensi risiko yang dapat mengancam keselamatan petugas.

Negara Diminta Penuhi Hak Keluarga Korban

Selain menyoroti aspek keselamatan, Dini meminta pemerintah memastikan keluarga korban meninggal dunia mendapatkan santunan dan pemenuhan hak sesuai ketentuan yang berlaku.

Sementara itu, para korban yang mengalami luka-luka harus memperoleh penanganan medis, perawatan, serta pemulihan secara optimal.

Ia menegaskan, perlindungan terhadap petugas dan relawan tidak boleh diabaikan hanya karena mereka menjalankan tugas kemanusiaan.

“Keberanian petugas atau relawan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan keselamatan mereka. Mereka berada di garis depan untuk melindungi kita, maka negara harus hadir melindungi mereka,” kata Dini.

Ia berharap tragedi tersebut menjadi momentum bagi seluruh instansi terkait untuk memperbaiki sistem perlindungan personel, sehingga kejadian serupa tidak terulang.

“Tidak boleh ada lagi nyawa yang hilang karena lemahnya kesiapsiagaan dan perlindungan di lapangan,” pungkasnya.

Empat Korban Meninggal Dunia

Berdasarkan keterangan dalam bahan pemberitaan yang diterima, empat korban meninggal dunia dalam insiden karhutla di kawasan Bromo tersebut masing-masing adalah Sukaris, operator layanan Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Balai Besar TNBTS.

Korban berikutnya adalah Hendra Rony Wagiyanata, petugas Balai Besar TNBTS yang disebut meninggal dunia setelah sempat mendapatkan perawatan medis akibat luka bakar.

Dua korban lainnya, yakni Wisnu Yuda Pratama dan Sefriel Ardiansyah, disebut bertugas sebagai petugas sekuriti hotel Artotel Bromo. Sefriel juga diketahui merupakan atlet panjat tebing.

Selain empat korban meninggal dunia, sejumlah orang dilaporkan mengalami luka bakar akibat peristiwa tersebut.

Tragedi ini kembali menegaskan pentingnya kesiapan personel, peralatan, koordinasi antarlembaga, dan prosedur keselamatan dalam setiap operasi pemadaman karhutla, terutama di kawasan dengan medan dan kondisi lingkungan yang berisiko tinggi.

Catatan redaksi: Rincian kronologi kejadian, status dan jumlah korban luka, identitas serta status kepegawaian seluruh korban, dan penyebab pasti insiden perlu dikonfirmasi kepada Balai Besar TNBTS atau instansi berwenang. Dugaan kelalaian tidak dapat disimpulkan tanpa hasil pemeriksaan resmi.

No More Posts Available.

No more pages to load.